Thursday, October 16, 2008
Saturday, October 11, 2008
I saw my Lord....
بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِي
You are the One who
encompassed "everywhere"
So that no "where", except You are there
Where has no "where"
in regards to You
for "where" to know where You are
not can imagination, imagine You
for imagination to know where You are
Your Knowledge encompasses everything
so that everything i see is You!
where ever you turn, there is.
fa ainama tuwallu fathamma wajhu Allah..
............Seseorang yang telah mencapai tingkat tersebut adalah seorang yang suci dan tidak akan bertindak atas kemauan sendiri, tetapi karena Kehendak-Nya, Kehendak-Nyalah Yang Berlaku.
Kehendak-Nyalah yang berlaku.
Kehendak-Nyalah yang berlaku.
bukan kerna kehendak mu, Kehendak-Nyalah jua yang berlaku...
for certainly after every hardship shall come ease,..certainly after hardship shall come ease.
no soul shall be burdened by more than what it can carry.
guide us to the straight path.
Posted by
darwisiy
at
10:49 AM
2
comments
Labels: KH Mustofa Mas'ud
Sunday, September 28, 2008
Teka-teki donia

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِي
Kita jangan menyangka bahawa Allah lemah menolong hambaNya. Teka-teki hidup ini amat banyak, orang berakal mati kelaparan, orang bodoh dapat mengumpulkan harta; pembela kebenaran terpencil di dalam hidup; penipu menjadi kaya-raya. Orang kafir pula mempunyai harta benda berbidang-bidang tanah. Orang Islam jadi penyapu jalan. Selidiki dahulu rahsia semua, baru ambil keputusan!
Sebelum ada kekayaan, orang pandai menggunakan wang yang belum ada dalam khayal. Setelah ada kekayaan, hilanglah akal; kemana gerangan dipergunakan?
source: ???
A Contented Life
Let the days pass as they will
Be content with Allah’s will.
Do not regret what this day’s cast,
For this world’s pains for sure won’t last.
Be a man against fears strong,
Be kind and loyal, all life long.
If in folk’s eyes your faults abound,
And you wish that they be gowned:
Then shelter seek beneath kind acts,
For kindness well all blame retracts.
From enemies hide your weakness
For gloating foes do bring distress.
From misers never seek favor:
In fire there is no water.
Patience won’t reduce income,
Nor fretfulness increase the sum.
Neither pain nor joy shall last,
Nor poverty, nor riches vast.
But if your heart is satisfied
Then you do own the whole world wide.
A man on whom his fate alights
No depths shall save, nor any heights.
Allah’s earth is wide, but know,
That destiny makes it narrow.
Face each day on even keel.
There’s no balm from death can heal.
[Imam al-Shafi`i]
Posted by
darwisiy
at
10:10 AM
0
comments
Labels: teka-teki
Monday, August 4, 2008
Garam di telaga jiwa
بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِي
"Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya berat dan air mukanya resah. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.
Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan.
"Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..", ujar Pak tua itu.
"Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil meludah kesamping. Pak Tua itu sedikit tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya.
Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu.
"Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai meneguk air itu, Pak Tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya?".
"Segar.", sahut tamunya.
"Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi.
"Tidak", jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk belakang si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. "Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. "Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu." Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. "Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan "segenggam garam", untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa."
-dari petikan di laman www.gagakmas.org
Our hearts are vessels.
Pour a handful of salt into a small cup, it will taste bad.
Pour it in a pure spring gushing from earth, and no taste remain. Just the freshness.
Choose your vessel and get on with it.
-Peace be to you-
Posted by
darwisiy
at
2:02 PM
3
comments
Friday, July 4, 2008
The Great Wall
بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِي
It is not that simple;
of letting the world go;
if the soul creates an illusionary wall.
If gold and stone is not the same to you;
no rest shall you find;
for inner peace is attained through detachment;
Woe o soul!;
for creating this illusion;
non existing walls of brilliance;
Now I know;
this is what happens when there is no spirit;
and only letters;
Four corners; four mute walls;
staring menacingly at me;
inside is prison, outside is prison;
Where shall I go?
Bukan semudahnya
Melepaskan dunia
Jika jiwa mencipta tembok kepalsuan
Empat penjuru, empat tembok bisu
memandang kejam padaku
Di dalam penjara, di luar penjara
Manakah tempatku mengadu..
-Peace be to you-
Posted by
darwisiy
at
5:27 AM
1 comments
Labels: dunya, tembok bisu
